Bom Surabaya, Teror Tahun 2018 Dari Satu Keluarga Pengikut ISIS

0
29

BanjarbaruWeb.com – Pada bulan Mei 2018, Indonesia digemparkan dengan tragedi teror bom Surabaya. Berpusat di ibukota Jawa Timur, teror bom ini bahkan menjadi sorotan dunia lantaran menggunakan modus baru dalam terorisme, yakni melibatkan seluruh keluarga kandung pelaku.

Pada hari Minggu, 13 Mei 2018, terjadi tiga ledakan langsung di tiga gereja yang berbeda di Surabaya. Gereja-gereja itu adalah Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro, Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela Ngagel dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jemaat Sawahan, Arjuno. CNN Indonesia melaporkan bahwa bom di tiga gereja itu menewaskan 19 orang dan setidaknya 41 orang lain luka-luka.

Dari 13 korban yang tewas itu, enam orang di antaranya adalah pelaku bom Surabaya 2018 yang tewas bunuh diri. Semakin mengejutkan karena enam orang pelaku itu berasal dari satu keluarga kandung. Mereka adalah Dita Upriyanto (48) dan istrinya, Puji Kuswati (43). Kedua pelaku mengajak keempat anaknya yakni Yusuf Fadil (18), Firman Halim (16), Fadilah Sari (12) dan Pamela Rizkita (9).

Melalui penelusuran kepolisian, terungkap bahwa keenam anggota keluarga itu memiliki tugas masing-masing dalam kasus bom Surabaya gereja. Dita sang kepala keluarga mengemudikan mobil Avanza dan menabrak GPPS Jemaat Sawahan. Sebelum beraksi, Dita menurutkan Puji dan kedua putrinya, Fadilah serta Pamela di GKI Diponegoro. Ketiga pelaku ini melilitkan tiga buah bom di pinggang.

Sementara Yusuf dan Firman mengendarai sepeda motor dan memangku bom yang kemudian dibawa ke Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela. Terungkap bahwa Dita adalah seorang pengusaha produksi minyak kemiri sementara Puji pernah menjadi perawat di salah satu rumah sakit Surabaya.

Kronologi Bom Surabaya

Setelah mengetahui keenam pelaku bom Surabaya yang ikut tewas, kepolisian Jawa Timur pun melakukan olah TKP dan mengetahui kronologi teror bom itu. Terungkap bahwa pada Minggu (13/5) pagi, satu keluarga ini dipecah menjadi dua rombongan. Di mana Dita berangkat menggunakan mobil bersama sang istri Puji dan kedua putri terkecilnya, Fadilah dan Pamela.

Sementara kedua putra tertuanya yang masih duduk di bangku SMA yakni Yusuf dan Firman berboncengan sepeda motor sambil membawa bom langsung menuju Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela. Dalam rekaman CCTV, sepeda motor itu langsung memasuki kompleks gereja dan nyaris menabrak seorang jemaat sebelum akhirnya meledak persis di antara jemaat yang sedang berjalan kaki pada pukul 06.30 WiB.

Di tempat lain, Dita sudah mengantarkan istri dan kedua putrinya ke GKI Diponegoro. Seorang saksi mata yakni Tardianto mengaku bahwa dia melihat tiga orang perempuan bercadar masuk area parkir GKI yang kemudian dihadang oleh seorang satpam. Pelaku kemudian memeluk pelaku dan akhirnya ledakan terjadi pada pukul 07.15 WIB. Terakhir Dita yang memasang bom di dalam mobil menerobos area parkir GPPS.

Mobil itu kemudian meledak pada pukul 07.53 WIB dan membakar gereja.14 jam berselang, ledakan bom rakitan terjadi di Blok B Lantai 5 Rusunawa Wonocolo, Sepanjang, kabupaten Sidoarjo. Anton Febrianto (47) pelaku yang memegang alat pemicu bom tewas saat melawan polisi. Lalu Puspitasari (47), istri dari Anton dan putri sulung mereka, Hilta Aulia Rahman (17), ikut tewas karena kecelakaan perakitan bom.

Di saat penyebab bom Surabaya masih diselidiki, pada Senin (14/5), terjadi ledakan bom bunuh diri di halaman Mapolrestabes Surabaya pada pukul 08.50 WIB. Pelakunya lagi-lagi adalah keluarga yakni TM (50), sang istri TE (43) dan ketiga anaknya. Keempat pelaku tewas dan hanya menyisakan seorang anak selamat.

Latar Belakang Bom Surabaya

Kapolri Tito Karnavian langsung membongkar latar belakang pelaku bom Surabaya. Di mana keenam anggota keluarga bom gereja terungkap baru saja pulang dari Suriah. Satu keluarga itu rupanya merupakan simpatisan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS). Melalui kantor berita mereka yakni Amaq News Agency, ISIS pun mengaku bertanggung jawab atas serangan tiga gereja itu.

Jika ditelusuri, rupanya sejak 2017 ada seratusan WNI yang pergi ke Suriah dan Irak demi bergabung jadi pasukan ISIS. Kejadian bom Surabaya ini membuka fakta bahwa isu-isu radikalisme masih jadi cikal bakal teror mengerikan di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here