Home Berita Nasional Duka di Akhir 2018, Pesawat Lion Air Jatuh di Perairan Karawang

Duka di Akhir 2018, Pesawat Lion Air Jatuh di Perairan Karawang

0
34

BanjarbaruWeb.com – Jelang akhir tahun 2018 kemarin, tragedi jatuhnya Pesawat Lion Air kembali jadi catatan kelam industri penerbangan Indonesia. Pada hari Senin, 29 Oktober 2018 itu, masyarakat dikejutkan atas jatuhnya Lion Air PK-LQP bernomor penerbangan JT 610 Dilaporkan, pesawat nahas itu lepas landas dari bandara Soekarno-Hatta (Jakarta) menuju bandara Depati Amir (Pangkal Pinang) pada pukul 06.20 WIB.

Jika sesuai jadwal, pesawat yang membawa 181 penumpang (178 orang dewasa dan 3 anak) 6 awak kabin dan 2 pilot ini harus tiba di Pangkal Pinang pada pukul 07.20 WIB. Beberapa menit usai lepas landas, pesawat jenis Boeing 737 MAX 8 itu hilang kontak. Barulah pada pukul 06.33 WIB, pesawat yang terbang ke arah barat itu dipastikan jatuh di lepas pantai utara laut Jawa yakni Tanjung Pakis, Karawang.

Sebelum jatuh di kedalaman 35 meter itu, pesawat mencapai ketinggian 5.000 kaki (1.500 meter) sebelum akhirnya naik turun. Data terakhir yang tercatat, pesawat ada di ketinggian 3.650 kaki (1.113 meter) dengan kecepatan 345 knot (639 km/jam). Menurut laporan, pesawat PK-LQP yang dikemudikan oleh pilot asal India, Bhavye Suneja dan kopilot Harvino itu melaporkan ada masalah kontrol pesawat pada pukul 06.22 WIB.

Karena masalah itu, PK-LQP sempat meminta kembali ke bandara yang kemudian diizinkan oleh AirNav. Namun pada 06.32 WIB, pesawat hilang kontak dan dipastikan jatuh di laut. Setelah memastikan lokasi jatuhnya pesawat pada pukul 09.40 WIB, Basarnas langsung melakukan pencarian.

Pada 30 Oktober 2018, pencarian diperluas sampai ke Indramayu karena arus air laut menuju arah timur. Dalam tragedi Pesawat Lion Air jatuh di Karawang ini, ada seorang penyelam gugur yakni Syachrul Anto pada 2 November 2018. Tepat 10 November 2018, Basarnas menghentikan pencarian dengan hasil 196 kantong jenazah. Pada 23 November 2018, DVI melaporkan ada 125 jenazah berhasil teridentifikasi.

Kejanggalan Dalam Kecelakaan Lion Air JT-610

Jatuhnya Pesawat Lion Air ini tidak luput dari berbagai kejanggalan yang meliputinya. Salah satunya adalah PK-LQP sudah mengalami masalah saat dipakai terbang dari Denpasar ke Jakarta pada Minggu malam, 28 Oktober 2018. Semakin mengejutkan karena dari penyelidikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), pesawat ini masih berusia muda yakni 2,4 bulan.

Sebelum kecelakaan Pesawat Lion Air 2018, KNKT juga menemukan fakta bahwa PK-LQP selalu mengalami delay berjam-jam dalam enam penerbangan berturut-turut. Hal ini cukup aneh karena seminggu sebelumnya, lepas landas selalu sesuai jadwal dan jikalau terlambat, kurang dari 45 menit. Bahkan dalam pendaratan terakhir di Denpasar, semalam sebelum kecelakaan terjadi dalam waktu sangat lama.

Di mana Pesawat Lion Air jatuh 2018 ini tiba pada hari Minggu (28/10) pukul 10.00 WITA, tapi baru terbang lagi ke Jakarta pukul 19.30 WITA dan keesokan paginya mengalami kecelakaan. Edwart Sirait selaku Dirut Lion Air berdalih bahwa pendaratan lama di Ngurah Rai karena grounded dan ganti sparepart. Kepada Tirto, Edward membantah jika pesawat dalam kondisi tidak layak terbang.

Hanya saja klaim Edward itu berbeda dengan apa yang diperlihatkan pada data FlightRadar24. Dari penerbangan terakhir sebelum jatuh yakni rute Denpasar-Jakarta, proses naik-turun lambung pesawat tidak stabil. Pesawat bahkan anjlok drastis dari ketinggian sekitar 1 menit 4 detik setelah lepas landas. Pola inipun terjadi lagi saat pesawat tersebut hilang kontak sebelum akhirnya jatuh di perairan Karawang.

FDR dan CVR Berhasil Ditemukan

KNKT dan Basarnas pun fokus mencari FDR (Flight Data Recorder) dan CVR (Cockpit Data Recorder) demi mengetahui penyebab kecelakaan. Menggunakan kapal laut dengan peralatan canggih, kotak hitam yang memuat FDR dan CVR pun dicari. Hingga akhirnya pada 1 November 2018 sekitar pukul 10.30 WIB, FDR ditemukan di kedalaman 32 meter pada posisi 400 meter dari lokasi kontak terakhir PK-LQP.

Sementara itu dua bulan kemudian, tim Pushidrosal TNI AL menemukan CVR pada 14 Januari 2019. Selain CVR, ditemukan juga tulang belulang bagian tubuh korban sebanyak tujuh kilogram. Dengan penemuan CVR, diharapkan penyebab asli jatuhnya Pesawat Lion Air tidak akan terjadi lagi di industri penerbangan Indonesia.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here