Musibah Kelam Gempa dan Tsunami Palu Telan Ribuan Korban Jiwa

0
17

BanjarbaruWeb.com – Pada hari Jumat, 28 September 2018, Indonesia dikejutkan dengan musibah maha dahsyat, gempa dan tsunami Palu. Sutopo Purwo Nugroho selaku Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB pun menjelaskan kepada Kompas bahwa gempa pertama kali mengguncang kabupaten Donggala pada pukul 13.00 WITA.

Gempa pertama ini berkekuatan magnitudo 6 dengan kedalaman 10 km. Kemudian gempa lebih besar mengguncang Palu dan Donggala pada pukul 18.02 WITA yang berkekuatan magnitudo 7,4 pada kedalaman 10 km. Dan pada 18.22 WITA, gelombang tsunami mencapai 6 meter menerjang kota Palu dan Donggala.

Gelombang tsunami dengan kecepatan 800 km/jam itu pun menerjang pantai Talise dan menggulung banyak manusia. Dilaporkan jika pusat gempa bumi (episentrum) ada di sekitar kecamatan Sirenja, Donggala. Karena sangat kuat, provinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawes Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo dan sebagian Kalimantan Timur merasakan gempa dan tsunami Palu Donggala tersebut.

Jika melihat lokasi episentrum dan kedalaman hiposentrum gempa bumi, gempa dan tsunami Palu Donggala terjadi pada tanggal 28 September 2018 ini diebabkan oleh aktivitas zona sesar Palu Koro. Palu Koro sejauh ini tercatat sebagai sesar teraktif di Sulawes sekaligus Indonesia karena bergerak sejauh 7 cm/tahun. Wahyu W. Pandoes dari BPPT sampai menyebut kalau gempa ini punya kekuatan 200 kali bom Hiroshima.

Sementara itu menurut BNPB, gelombang tsunami yang muncul dikarenakan kelongsoran sedimen dalam laut yang mencapai 200-300 meter. Fakta baru terungkap bahwa titik tertinggi gelombang tsunami Palu ini mencapai 11,3 meter di desa Tondo, Palu Timur, Palu. Untuk titik terendahnya mencapai 2,2 meter di desa Mapaga, Donggala.

Hingga 20 Oktober 2018, korban jiwa meninggal karena musibah ini mencapai 2.113 orang. Korban terbanyak ada di Palu sejumlah 1.703 orang lalu kemudian di Sigi dan Parigi. Setidaknya ada 4.612 orang mengalami luka berat dan 1.373 jiwa dinyatakan hilang. Sejauh ini lebih dari 223.751 orang mengungsi di 122 titik.

Infrastruktur Rusak Parah

Melihat korban jiwa yang menembus ribuan orang, musibah gempa dan tsunami Palu ini menjadi sebuah peristiwa yang menyesakkan hati. Setidaknya dampak kerugian total tercatat Rp 2,89 triliun dan kerusakan mencapai Rp 15,58 triliun. Infrastruktur di sekitar lokasi terdampak gempa tsunami pun hancur total. Misalkan saja hotel Roa-Roa di Palu dan rumah sakit Anuntapura berlantai 4 yang roboh.

Mal terbesar di Palu yakni mal Tatura dilaporkan ikut roboh dengan ratusan orang di dalamnya. Lalu KM Sabuk Nusantara ikut terhempas gelombang tsunami hingga puluhan meter dari pelabuhan Wani yang dermaga dan bangunannya rusak parah. Kedahsyatan gempa dan tsunami Palu 2018 terlihat dari kios-kios di pesisir teluk Palu atau pantai Talise yang tersapu.

Bahkan Jembatan Kuning yang jadi ikon kota Palu sekaligus pemisah Palu barat dan Palu Utara pun ikut ambruk. Dilaporkan pula jika masjid Arqam Bab Al Rahman (masjid apung Palu) sebagian roboh dan masuk ke laut. Bandara Mutiara Sis Al Jufri di Palu pun mengalami kerusakan pada menara ATC yang runtuh sehingga ditutup sementara.

Likuifaksi dan Fakta Gempa di Sulawesi

Musibah yang dialami korban gempa dan tsunami Palu pun diperparah dengan terjadinya fenomena tanah bergerak alias likuifaksi. Likuifaksi dilaporkan terjadi di Sigi pada hari Sabtu (29/9) saat bangunan dan pohon mendadak bergerak lalu amblas. Menurut BNPB, likuifaksi disebabkan penggemburan tanah akibat gempa. Selain di Sigi, likuifaksi terparah terjadi di Petobo dengan ratusan rumah ditelan bumi.

BNPB mencatat jika gempa dan tsunami sudah pernah terjadi sebelumnya di Sulawesi. Pada 1 Desember 1927, terjadi di teluk Palu dengan korban 14 orang tewas. Lalu pada 30 Januari 1930, tsunami menerjang pantai barat Donggala setinggi dua meter. Yang terbesar adalah pada 14 Agustus 1938 saat tsunami setinggi 8-10 meter menerjang teluk Tambu, Balaesang, Donggala.

Tsunami teluk Tambu itu menewarkan 200 jiwa. Terakhir pada 1994 dan 1996 ada tsunami juga di Sausu, Donggala dan pantai barat Donggala. Dengan kengerian yang ditimbulkan gempa dan tsunami Palu 2018, semoga musibah ini tak terjadi lagi di masa depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here